
Provinsi Papua Barat secara resmi menjadi tuan rumah dua pertemuan ilmiah internasional bergengsi sekaligus, yaitu Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Internasional Solusi Iklim Berbasis Alam (Nature-Based Climate Solutions Conference) yang berlangsung pada 9–14 Februari 2026 di Manokwari.
Kegiatan ini dibuka dengan sambutan Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., yang menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kepercayaan komunitas ilmiah internasional kepada Papua Barat sebagai lokasi penyelenggaraan forum strategis tentang keanekaragaman hayati dan ketahanan iklim.
Gubernur menegaskan bahwa kondisi hutan Papua Barat yang masih terjaga mencapai lebih dari 70 persen wilayah merupakan penyangga utama kehidupan. Kerusakan hutan berpotensi menimbulkan longsor, pencemaran sungai, serta ancaman bagi masyarakat pesisir.
Pemerintah Provinsi Papua Barat juga terus mengadopsi pendekatan Ridge to Reef sebagai strategi pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan pengelolaan daratan hingga lautan secara menyeluruh.

Partisipasi Internasional dan Agenda Ilmiah
Ketua Panitia Bersama, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si., melaporkan bahwa konferensi diikuti sekitar 300 peserta, terdiri dari 56 peserta internasional dari berbagai negara dan 89 peserta domestik dari berbagai provinsi di Indonesia.
Rangkaian kegiatan ilmiah meliputi:
- 7 sesi pleno dengan 15 narasumber internasional dan nasional
- 28 sesi panel yang membahas lebih dari 100 abstrak penelitian
- 17 presentasi poster ilmiah
Ruang Kolaborasi Pengetahuan, Budaya, dan Lapangan
Selain forum akademik, kegiatan ini menghadirkan berbagai agenda pendukung, antara lain:
- Diskusi film bertema lingkungan
- Booth sponsor terbuka untuk publik
- Field trip ke Teluk Bintuni (Nature-Based Climate Solutions) dan Pegunungan Arfak (Flora Malesiana)
Tujuan Strategis dan Dampak Jangka Panjang
Forum internasional ini diharapkan:
- Menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman langsung di Tanah Papua.
- Menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti bagi pembangunan berkelanjutan.
- Memperkuat perlindungan kawasan konservasi dan spesies endemik.
- Membuka peluang kerja sama pendanaan hijau, transfer teknologi, dan kolaborasi riset global.
Kemakmuran masyarakat, menurut Prof. Heatubun, hanya dapat tercapai jika berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan sistem penyangga kehidupan masyarakat adat.
Apresiasi dan Penutup
Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk lembaga mitra nasional dan internasional, sponsor, relawan, aparat keamanan, tenaga medis, serta penyedia layanan pendukung.
Menutup sambutannya, Gubernur Mandacan mengajak semua pihak menjaga alam Papua:
“Birukan langit dan laut, hijaukan bumi. Kita jaga hutan, hutan akan jaga kita. Kita jaga laut, laut akan jaga kita. Kita jaga alam, alam akan jaga kita.”
Simposium dan konferensi ini diharapkan menjadi momentum bersama memperkuat komitmen menjaga kekayaan alam Papua demi kesejahteraan generasi mendatang.





